- Advertisement -Newspaper WordPress Theme
Just for DadSaling Jabat Tangan atau Peluk? Mengapa Banyak Pria Masih Canggung Menunjukkan Kasih...

Saling Jabat Tangan atau Peluk? Mengapa Banyak Pria Masih Canggung Menunjukkan Kasih Sayang Antar-Teman

Mengapa pria sering ragu untuk saling memeluk? Temukan penjelasan psikologis di balik norma maskulinitas, kekhawatiran sosial, dan pentingnya koneksi emosional antar-pria.

Pernahkah Anda berada di situasi canggung saat bertemu dengan teman lama—satu orang mengulurkan tangan untuk berjabat, sementara yang lain membuka lengan untuk memeluk? Setelah kebingungan sesaat, Anda berdua akhirnya menyepakati fist bump (adu tinju pelan) sebagai jalan tengah. Bagi banyak pria, gestur menyapa yang terkesan “aman” ini sering kali dipicu oleh ketakutan dan norma sosial yang sudah mengakar sejak kecil.

Banyak pria dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa ekspresi kelembutan atau kehangatan antar-sesama pria adalah bentuk kelemahan. Akibatnya, refleks pertama yang muncul saat bertemu sahabat sendiri bukanlah pelukan hangat, melainkan jabat tangan yang kaku.

3 Jenis Pelukan Pria dan Pesan di Baliknya

Dalam interaksi sosial antar-pria, bentuk gestur fisik yang terjadi biasanya terbagi ke dalam tiga jenis:

  • The Mobster (Pelukan Singkat Berenergi): Bentuk pelukan singkat yang disertai tepukan kencang di punggung. Pelukan ini biasanya diikuti dengan sapaan kasual seperti “Yo, bro!” untuk menetralkan suasana agar tidak terkesan terlalu emosional.

  • The Sasquatch (Pelukan Beruang): Pelukan di mana kedua pihak saling merangkul dengan kuat dan erat. Biasanya dilakukan saat merayakan momen besar atau setelah sekian lama tidak bertemu.

  • The Brother (Pelukan Persaudaraan): Jenis pelukan yang paling tulus dan jarang dilakukan. Pelukan ini lebih lama, dekat, dan berani menunjukkan rasa kasih sayang yang nyata antar-sahabat. sayangnya, jenis pelukan inilah yang paling sering dihindari oleh pria.

Mengapa Pria Canggung Mengekspresikan Kasih Sayang?

Teori sejarah pernah menyebutkan bahwa jabat tangan diciptakan untuk membuktikan bahwa kedua belah pihak tidak memegang senjata. Namun, dalam konteks psikologi modern, keengganan pria untuk saling memeluk jauh lebih kompleks dari sekadar pertahanan diri fisik.

Dr. Michael M. Crocker, pendiri Sexuality, Attachment & Trauma Project di New York, menjelaskan bahwa rasa enggan atau canggung untuk memeluk sesama pria umumnya berakar dari ketakutan akan persepsi orang lain.

“Berdasarkan pengalaman saya, ketakutan terhadap kehangatan fisik antar-pria cisgender sering kali didasari oleh kecemasan bahwa orang lain akan mempertanyakan orientasi seksual mereka,” jelas Dr. Crocker.

Sejak usia muda, banyak anak laki-laki dibesarkan dalam konstruksi budaya maskulinitas toksik. Setiap bentuk kelembutan, kepekaan emosional, atau kehangatan sering kali dijadikan bahan ejekan. Budaya ini secara tidak langsung mendidik pria untuk memendam perasaan, menolak kerentanan (vulnerability), dan mengganti ekspresi kasih sayang dengan kontak fisik yang bernuansa agresi—seperti tepukan keras atau pukulan bercanda di bahu.

Meruntuhkan Konstruksi Maskulinitas Kuno

Memendam emosi dan menghindari kontak emosional yang sehat dapat memicu rasa terisolasi pada pria. Banyak pria dewasa yang sebenarnya merindukan hubungan persaudaraan yang hangat, namun terhalang oleh narasi lama yang menganggap kehangatan sebagai tanda kelemahan.

Merangkul dan mengekspresikan rasa sayang kepada sahabat bukanlah hal yang perlu ditakuti. Menunjukkan kerentanan serta memberikan pelukan hangat kepada teman dekat adalah langkah awal untuk membangun kesehatan mental yang lebih baik dan meruntuhkan stigma maskulinitas yang mengekang.

SourceFatherly

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Subscribe Today

GET EXCLUSIVE FULL ACCESS TO PREMIUM CONTENT

SUPPORT NONPROFIT JOURNALISM

EXPERT ANALYSIS OF AND EMERGING TRENDS IN CHILD WELFARE AND JUVENILE JUSTICE

TOPICAL VIDEO WEBINARS

Get unlimited access to our EXCLUSIVE Content and our archive of subscriber stories.

Exclusive content

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme

Latest article

More article

- Advertisement -Newspaper WordPress Theme