Tren tren “vaginamaxxing” mendadak viral di media sosial setelah unggahan Bryan Johnson. Simak penjelasan dan bahaya tren ini menurut pakar kesehatan.
Fenomena kecantikan ekstrem di media sosial kini merambah ke area yang makin personal. Setelah populernya istilah looksmaxxing, belakangan publik dihebohkan dengan munculnya tren baru bernama vaginamaxxing. Tren ini mendorong wanita untuk “mengoptimalkan” bentuk, aroma, hingga tingkat kerapatan organ intim mereka agar terlihat lebih sempurna. Namun, para pakar kesehatan wanita justru memberikan peringatan keras terhadap tren ini.
Istilah vaginamaxxing mencakup berbagai upaya perubahan fisik, mulai dari penggunaan krim pemutih, gel pengencang, suplemen khusus, rutinitas pembersihan bertingkat, hingga prosedur medis invasif seperti terapi laser dan labiaplasty (operasi plastik untuk mengubah bentuk atau ukuran bibir vagina).
Sama halnya dengan tren estetika berlebihan lainnya, tren ini memicu kekhawatiran besar di kalangan tenaga medis karena dinilai berpotensi membahayakan kesehatan sekaligus mengeksploitasi rasa tidak percaya diri perempuan.
Awal Mula Tren Vaginamaxxing
Istilah ini mengemuka setelah unggahan kontroversial dari longevity influencer asal Amerika Serikat, Bryan Johnson, di platform X. Johnson, yang dikenal lewat eksperimen rekayasa hayati (biohacking) ekstrem untuk memperpanjang usia, mengklaim bahwa pasangannya memiliki kondisi vagina tingkat “satu persen terbaik” dengan skor mikrobioma sempurna (100/100).
Unggahan tersebut memicu gelombang respons dari pengguna lain di X hingga melahirkan istilah vaginamaxxing. Tren ini dengan cepat meluas di media sosial sebagai gerakan untuk memodifikasi dan mempercantik organ intim wanita demi memenuhi standar estetika tertentu.
Bahaya Medis di Balik Produk dan Prosedur “Vaginamaxxing”
Para dokter spesialis obstetri dan ginekologi (OB-GYN) serta praktisi kesehatan wanita secara tegas menyuarakan keprihatinan mereka terhadap maraknya produk dan praktik ini.
Dr. Susan Hardwick-Smith, seorang dokter spesialis ginekologi, menjelaskan bahwa tes pemeriksaan mikrobioma vagina yang dipamerkan di media sosial umumnya merupakan produk komersial dari perusahaan wellness, bukan standar medis resmi yang teruji secara klinis. Menurutnya, klaim bahwa satu jenis bakteri tertentu lebih unggul dibanding yang lain adalah keliru, karena vagina yang sehat justru membutuhkan keseimbangan dari berbagai strain bakteri.
Sementara itu, Natalie Paul, seorang family nurse practitioner sekaligus pendiri Lavender Spectrum Health di Washington, memperingatkan bahaya penggunaan krim pengencang maupun pemutih di area sensitif.
“Hampir semua produk ini sebenarnya berbahaya. Bahan kimia yang menyebabkan kekeringan atau iritasi dapat meningkatkan risiko luka robek, yang pada akhirnya memperbesar risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) seperti klamidia, gonore, trikomoniasis, hingga HIV,” ujar Paul.
Ia juga menambahkan bahwa produk berbahan dasar pemutih berisiko tinggi menyebabkan luka bakar kimia pada jaringan kulit sensitif di area vulva.
Ancaman Stigma dan Bahaya Body Shaming
Selain dampak kesehatan fisik, para ahli mengkhawatirkan dampak psikologis dari tren ini. Kampanye vaginamaxxing dinilai memanfaatkan rasa ketidakpercayaan diri wanita terhadap tubuhnya sendiri.
Laura Dowling, penulis buku Love Your Vulva, menegaskan dalam wawancaranya bersama The Times bahwa bentuk vulva pada setiap wanita pada dasarnya sangat beragam dan alami. “Namun kini kita berada di era di mana operasi pembentukan kembali organ intim wanita menjadi salah satu prosedur kosmetik dengan pertumbuhan tercepat di dunia,” ungkapnya.
Pakar kesehatan menyarankan agar masyarakat tidak tergiur oleh tips kesehatan atau produk yang dipasarkan melalui media sosial. Jika memiliki keluhan atau pertanyaan terkait kesehatan organ reproduksi, langkah terbaik dan paling aman adalah berkonsultasi langsung dengan dokter atau tenaga medis profesional.



