Simak 6 tips praktis dari para pakar dan pendidik untuk menghadapi masa kembali ke sekolah agar rutinitas anak dan orang tua berjalan lancar tanpa stres.
Musim kembali ke sekolah selalu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap keluarga. Beralih dari pola liburan yang santai menuju bangun pagi tepat waktu, mengatasi rasa gugup hari pertama, hingga mempersiapkan kebutuhan belajar memerlukan kesiapan fisik dan mental. Untuk membantu para orang tua, sejumlah pakar pendidikan dan psikolog membagikan enam tips kunci agar transisi ini berjalan lancar dan bebas stres.
1. Jaga Rutinitas Pagi yang Konsisten
Cerys Parker, seorang guru dan blogger, menekankan pentingnya rutinitas pagi yang terstruktur. Cerys memulai harinya 30 menit lebih awal sebelum anak-anaknya bangun untuk menikmati waktu tenang.
“Kami memiliki posisi khusus untuk setiap barang, seperti tas dan kunci, sehingga pagi hari berjalan lebih mulus tanpa kepanikan mencari barang,” ujar Parker.
Beberapa kebiasaan pagi yang ia terapkan meliputi:
-
Mempersiapkan seragam, sepatu, dan tas sekolah sejak malam sebelumnya.
-
Menyajikan menu sarapan yang sama setiap pagi tanpa paparan layar (screen-free).
-
Menyimpan salinan jadwal pelajaran anak untuk memastikan kebutuhan harian (seperti baju olahraga) tidak terlewat.
2. Gunakan Kalender Keluarga
Mengingat agenda sekolah seperti hari tanpa seragam, acara olahraga, atau masa ujian sering kali terlewat, Parker menyarankan penggunaan kalender akademik yang ditempel di lokasi yang mudah terlihat, seperti dinding rumah atau pintu kulkas. Kalender ini digunakan untuk mencatat rencana makan, kegiatan ekstrakurikuler, jadwal ujian, hingga tanggal-tanggal penting persekolahan. Parker juga menyiapkan dompet kecil berisi uang koin untuk mengantisipasi acara amal atau bazar di sekolah.
3. Ubah Cara Menanyakan Kegiatan Sekolah
Setelah seharian beraktivitas, anak-anak sering kali terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan umum seperti “Gimana sekolahnya tadi?”. Prof. Will Shield, pakar psikologi anak dari University of Exeter, menyarankan penggunaan pertanyaan terbuka yang lebih spesifik.
-
“Apa yang bikin kamu tersenyum hari ini?”
-
“Hal paling lucu apa yang terjadi di sekolah tadi?”
-
“Main sama siapa pas jam istirahat?”
Sementara itu, psikolog klinis Dr. Martha Deiros Collado mengingatkan bahwa emosi anak saat dijemput adalah hal yang wajar. Momen perpisahan dan pertemuan kembali merupakan bagian penting dari proses tumbuh tumbuh kembang anak.
4. Kenalkan Konsep Sekolah Sebelum Hari Pertama
Bagi anak yang baru pertama kali masuk sekolah, pengenalan awal sangat penting untuk membangun rasa aman. Prof. Shield menyarankan beberapa langkah persiapan:
-
Mengajak anak berjalan atau berkendara melewati area sekolah.
-
Membaca buku bertema sekolah bersama.
-
Mengatur jam tidur lebih awal beberapa hari sebelum sekolah dimulai.
-
Mencoba seragam sekolah baru di rumah.
Dr. Deiros Collado menambahkan bahwa kesiapan sekolah bukan sekadar bisa membaca atau berhitung, melainkan merasa nyaman di lingkungan baru. Orang tua juga dapat melatih kemandirian anak (seperti memasang ritsleting jaket sendiri) dan membiasakan anak berani mengucapkan “Tolong bantu aku” kepada guru saat membutuhkan bantuan.
5. Susun Jadwal Belajar dan PR Mingguan
Katharine Radice, seorang guru dan penulis, merekomendasikan pembuatan jadwal khusus untuk mengerjakan tugas rumah (PR). Pendekatan ini membantu menciptakan batasan waktu yang jelas agar anak fokus tanpa gangguan.
Radice menekankan pentingnya memberikan pujian atas usaha anak, bukan sekadar hasil akhirnya. “Fokus berlebihan pada hasil akhir dapat menurunkan motivasi anak. Dorongan positif pada proses akan membuat mereka tetap bersemangat,” jelasnya.
6. Dengarkan Kekhawatiran Anak, Jangan Sekadar Memenangkan
Saat anak merasa cemas menghadapi tahun ajaran baru, hindari langsung memotong dengan kalimat “Kamu bakal baik-baik saja.” Menurut Prof. Shield, anak membutuhkan validasi atas perasaan mereka.
Gunakan kalimat empati seperti “Ibu/Ayah paham kamu sedang khawatir,” lalu telusuri penyebab kecemasan tersebut. Arahkan perhatian mereka secara perlahan ke hal-hal menyenangkan yang mereka sukai di sekolah, seperti bertemu teman atau bermain olahraga favorit. Jika kecemasan anak mulai mengganggu tidur dan aktivitas harian, segera konsultasikan dengan pihak sekolah atau profesional kesehatan. ****



